
Muharram: Momentum Evaluasi, Konsolidasi, dan Menawarkan Nilai untuk Kemanusiaan
Oleh: KH. Hizbullah AS
Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur
Dalam rangkaian acara puncak Semarak Muharram yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan pada 20–21 Juni 2026, Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, KH. Hizbullah AS, menyampaikan sebuah refleksi yang patut menjadi perhatian bersama. Beliau mengatakan bahwa “umat Islam sangat pintar membuat institusi, tetapi tidak pandai membuat barisan.”
Pernyataan tersebut lahir dari pengamatan terhadap realitas umat Islam yang begitu produktif dalam melahirkan berbagai organisasi, lembaga, dan institusi. Namun pada saat yang sama, umat masih menghadapi tantangan besar dalam membangun kesatuan visi, kesatuan langkah, dan sinergi perjuangan yang kuat.
Tidak sedikit energi umat yang akhirnya terserap dalam sekat-sekat kelompok dan kepentingan masing-masing. Akibatnya, meskipun umat Islam merupakan kekuatan besar dari sisi jumlah, pengaruh yang dihasilkan belum sepenuhnya sebanding dengan potensi yang dimiliki. Kekuatan umat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya lembaga yang berdiri, tetapi juga oleh kemampuan membangun barisan yang solid dan bergerak menuju tujuan yang sama.
Momentum Muharram seharusnya menjadi saat yang tepat untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan perjuangan yang telah ditempuh. Sudah sejauh mana visi besar dakwah dan pendidikan yang selama ini menjadi arus utama gerakan Hidayatullah diwujudkan? Seberapa besar pengaruh positif yang telah diberikan kepada masyarakat? Dan sejauh mana cita-cita menghadirkan perubahan melalui dakwah dan pendidikan telah tercapai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk terus dihadirkan agar gerakan dakwah tidak sekadar berjalan sebagai rutinitas, melainkan tetap terarah pada tujuan besar membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Di sisi lain, umat Islam juga tidak boleh abai terhadap perkembangan dunia yang berlangsung sangat cepat. Berbagai peristiwa global yang terjadi belakangan ini, mulai dari bencana alam, krisis kemanusiaan, hingga peperangan di berbagai kawasan dunia, menunjukkan adanya perubahan besar dalam tatanan global. Semua itu merupakan gejala perubahan siklus dunia yang perlu dibaca dengan cermat oleh umat Islam agar mampu menyiapkan kontribusi yang relevan bagi masa depan.
Salah satu pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah mengapa perang terus terjadi dan mengapa genosida masih berlangsung di tengah peradaban modern yang mengaku menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Di antara penyebabnya adalah masih adanya kelompok atau bangsa yang merasa dirinya lebih unggul, lebih istimewa, dan lebih berhak dibandingkan bangsa lain.
Cara pandang semacam ini sesungguhnya bertentangan dengan ajaran agama, termasuk Islam. Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia berasal dari sumber yang sama dan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah SWT. Tidak ada kemuliaan yang didasarkan pada ras, warna kulit, kebangsaan, maupun status sosial.
Pelajaran besar mengenai kesetaraan manusia sesungguhnya baru saja kita lalui pada bulan Dzulhijjah. Dalam ibadah haji, khususnya saat wukuf di Arafah, jutaan manusia berkumpul dalam keadaan yang sama. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sederhana tanpa jahitan, meninggalkan seluruh atribut duniawi yang biasa melekat pada diri mereka.
Pemandangan itu memberikan pesan yang sangat kuat bahwa manusia pada hakikatnya setara di hadapan Tuhan. Tidak ada yang membedakan mereka selain tingkat ketakwaannya. Jabatan, profesi, kekayaan, warna kulit, dan asal-usul keturunan tidak menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah SWT.
Sementara itu, ibadah qurban mengajarkan nilai pengorbanan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Qurban mengingatkan bahwa kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang memberi manfaat bagi sesama dan menghadirkan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
Apa yang terjadi di Palestina saat ini menjadi contoh nyata bahwa masih ada pihak yang memandang dirinya lebih berhak dibandingkan bangsa lain. Tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung menunjukkan bagaimana rasa superioritas dapat melahirkan penindasan, ketidakadilan, dan penderitaan yang berkepanjangan.
Kondisi tersebut tentu tidak sejalan dengan konsep dan manhaj dakwah yang menjadi landasan perjuangan Hidayatullah. Melalui Sistematika Wahyu, Hidayatullah mengajarkan nilai tauhid yang melahirkan keadilan, persaudaraan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Oleh karena itu, sudah saatnya nilai-nilai yang terkandung dalam Sistematika Wahyu tidak hanya dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh kader Hidayatullah semata. Nilai-nilai tersebut perlu terus dielaborasi, dikemas dengan baik, dan ditawarkan kepada masyarakat luas sebagai kontribusi nyata untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan yang dihadapi dunia saat ini.
Muharram hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat barisan, menyatukan visi perjuangan, memperkokoh dakwah dan pendidikan, serta memperluas kontribusi bagi kemanusiaan. Sebab dunia hari ini tidak hanya membutuhkan banyak institusi, tetapi juga membutuhkan hadirnya nilai-nilai yang mampu mempersatukan manusia dalam keadilan, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama.
Wallahu a’lam bish-shawab.
